Milik Yahudi. WhatsApp Dilarang di Iran

By on May 6, 2014
52whatsapp-capai-250-juta-pengguna-aktif

Pada hari Senin (05/05/2014) kemarin, Pemerintah Iran telah mengambil kebijakan khusus untuk melarang warga negaranya menggunakan layanan pesan instan WhatsApp dimanapun mereka berada. Hal ini diduga karena Mark Zuckerberg, yang merupakan CEO Facebook yang membeli WhatsApp sebagai penyebab utama dibalik keputusan pemerintah Iran.

Menurut laporan yang dilansir dalam laman Fox News, pemerintah Iran yang saat ini berkuasa mengatakan bahwa WhatsApp sekarang ini telah dimiliki oleh seorang keturunan Yahudi, hal tersebut berkaitan langsung ketika Zuckerberg melalui Facebook telah mengakuisisi WhatsApp pada dua bulan lalu dengan benderol sebesar 19 miliar dollar Amerika.

Dalam keterangannya, Abdolsamad Khorramabadi, yang merupakan seorang Kepala Komite Kejahatan Internet Iran mengatakan bahwa Alasan utama atas pelarangannya ini adalah sebuah asumsi bahwa WhatsApp kini telah dimiliki oleh Mark Zuckerberg, yang merupakan seorang zionis Amerika sekaligus pendiri pendiri situs jejaring sosial paling populer Facebook.

Tapi selain isu zionisme, ternyata langkah yang diambil oleh pemerintah Iran tersebut dianggap sebagai bentuk ketakutan mereka sendiri terhadapa kekuatan media sosial yang belakangan ini menjadi media yang sangat efektif untuk melakukan propaganda dan menggalang dukungan. Bahkan salah seorang bloger Iran mengatakan kepada Fox News bahwa Garda Revolusi melihat bahwa situs jejaring sosial sebagai ancaman serius dalam pemerintahannya.

Belogger tersebut mengatakan bahwa Pemerintah Iran sangat takut karena banyak pemuda Iran yang bisa bertukar informasi secara cepat lewat situs sosial media. Blogger tersebut juga mengatakan bahwa Khameini dan kroninya sangat menyadari kekuatan ini setelah munculnya Green Movement beberapa waktu yang lalu.

Green Movement atau yang disebut juga sebagai Twitter Revolution merupakan protes keras yang dilakukan warga Iran pada Juni 2009 yang lalu. Aksi protes ini sendiri digerakkan melalui jejaring sosial Twitter yang secara jelas menentang hasil keputusan Pemilu Iran yang saat itu dimenangi oleh Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran.

Dalam aksi tersebut, warga Iran justru lebih mendukung kandidat dari partai oposisi, yakni Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi yang memiliki faham bersebrangan dengan Mahmoud Ahmadinejad. Aksi protes yang terjadi di kota-kota besar Iran tersebut telah membuka mata dunia akan kekuatan tersendiri kepada jejaring sosial yang saat ini tengah populer. Pada saat itu, Twitter dan Facebook merupakan media sosial yang paling banyak digunakan untuk menggalang kekuatan protes. Akhirnya sejak saat itu pemerintah Iran mulai melarang penggunaan kedua situs jejaring sosial tersebut.

Walaupun telah menuai kesuksesan yang sangat besar, tapi WhatsApp sendiri belakangan ini sering dijadikan sebagai kambing hitam atas berbagai peristiwa yang terjadi didunia ini, misalnya saja seperti yang terjadi di Timur Tengah pada Februari yang lalu, secara khusus WhatsApp ini dituding oleh seorang rabi Israel sebagai penyebab utama hancurnya bisnis dan rumah-rumah warga Yahudi disana.

0932140facebook-whatsapp780x390

About Techno Freak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *