Googling Membuat Seorang Programer Direkrut Google

By on September 2, 2015
1. Googling Membuat Seorang Programer Direkrut Google 2

Anda para pemakai mesin pencari Google pastinya sangat penasaran dengan cara perekrutan karyawan di Google. Perusahaan teknologi raksasa ini tentu sangat selektif dalam memilih tiap karyawan yang akan dipekerjakan. Terlebih Google sangat terkenal sebagai perusahaan teknologi yang telah menciptakan banyak sekali produk teknologi yang inovatif. Namun tahukah Anda, ternyata anggapan sebagian besar orang seperti yang digambarkan di atas salah besar. Bayangan perekrutan karyawan baru di Google tak serumit apa yang ada di pikiran sebagian besar orang.

Dilansir dari situs Kompas Tekno edisi Senin 31 Agustus 2015 dan juga dari situs Recode, Google dalam merekrut karyawan baru seperti programer yang sangat unik dan penuh dengan rahasia. Caranya yaitu dengan berdasarkan aktivitas para pengguna Google untuk mencari berbagai informasi melaui mesin pencari Google. Hal ini terungkap berkat kesaksian seorang programer baru Google yang bernama Max Rosett. Ia belum lama direkrut oleh Google hanya gara-gara ia menuliskan frase ‘phyton lambda function list comprehension’ di kotak mesin pencari Google.

Saat ini Rosett sedang memiliki masalah pemrograman pada data miliknya. Data tersebut adalah data yang harus diselesaikan oleh Rosett. Tak lama setelah menuliskan frase tersebut, Rosett kemudian menerima pesan yang sangat mengejutkan. Pesan tersebut muncul secara tiba-tiba di kotak pencarian Google yang sedang dipandangi Rosett. Pesan tersebut kurang lebih berkata demikian,“ Kamu berbicara dengan bahasa kami. Tertarik dengan tantangan?” kemudian pada layar terlampir tautan google.com/foobar. Tautan atau situs ini tak lain adalah situs khusus tes pemrograman Google yang biasa digunakan untuk merekrut para programer baru Google.

Ini adalah bukti bahwa Google memiliki aplikasi rahasia yang dicantumkan pada mesin pencarinya secara rahasia. Aplikasi rahasia ini memang digunakan untuk melihat para calon karyawan yang dianggap memiliki potensi dan kompetensi yang dibutuhkan oleh Google. Dengan cara ini, HR Google dengan mudah melihat talenta-talenta dari seluruh dunia dan dari luar lingkungan Google tentunya yang memiliki potensi dan berpeluang menjadi karyawan Google.

Rosett bercerita tentang pengalamannya ini via blog pribadinya. Ia mengatakan bahwa Google telah mengidentifikasi dirinya sebelum ia melamar secara resmi pada Google. Tentunya ia merasa senang karena ia merasa menjadi orang penting dan orang yang dibutuhkan oleh Google. Hebatnya lagi Google tetap mementingkan privasi talenta yang akan direkrutnya dengan cara selalu meminta persetujuan di setiap permintaan informasi tentang talenta tersebut.

Bisa saja Anda para progamer memiliki nasib yang baik seperti Rosett. Bisa dibilang Max Rosett adalah orang yang sangat beruntung di mana ia menemukan karir terbaiknya dengan cara random. Bagaimana, berminat menjadi programer Google selanjutnya? Mungkin nasib baik yang sama akan berpihak pada Anda jika Anda para programer sering-sering menggunakan mesin pencari Google, khususnya pencarian tentang informasi pengkodean atau hal lainnya di bidang pemrograman.

Google

About Melisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *